Menak Dewi Rengganis

Wayang Menak Jawa merupakan bentuk adaptasi lokal dari kisah kepahlawanan Amir Hamzah, tokoh yang awalnya muncul dalam literatur Persia abad ke-9 Masehi, dikenal sebagai paman Nabi Muhammad dan sahabat yang gugur dalam Perang Uhud. Cerita Amir Hamzah masuk ke Nusantara sekitar abad 15 Masehi melalui jalur perdagangan dan penyebaran sastra hikayat, terutama ke Sumatera, sebelum berkembang di pesisir Pulau Jawa. Melalui proses panjang sejak masa Kartasura hingga Surakarta, kisah ini bertransformasi menjadi Serat Menak dan berbagai lakon turunannya seperti Dewi Rengganis, memadukan ajaran Islam, nilai-nilai Jawa, serta semangat kepahlawanan dan kemanusiaan dalam bingkai budaya lokal.

Masuknya Kisah Amir Hamzah ke Nusantara

Melalui jalur perdagangan, kisah Amir Hamzah dibawa ke Sumatera dalam bentuk sastra hikayat, lalu menyebar ke pesisir Jawa sebagai Layang Ambyah. Pada awal 1700-an, Carik Narawita, jurutulis Keraton Kartasura, atas perintah Ratu Pakubuwana (permaisuri Pakubuwana I), menyalin naskah tersebut menjadi Serat Menak.

Kemudian, pujangga keraton Raden Ngabehi Yasadipura I menggubahnya kembali dengan sentuhan tasawuf dan ajaran luhur Nusantara, menjadikan kisah Amir Hamzah terasa akrab dan harmonis dengan nilai-nilai lokal Jawa.

Peran Sosial dan Emansipasi dalam Serat Menak

Kepopuleran Serat Menak meningkat pesat, bahkan menurut Purbatjaraka (1951), pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20, naskah ini banyak dibaca oleh kaum perempuan. Ceritanya menampilkan tokoh-tokoh wanita prajurit yang cerdas, perkasa, dan mandiri—memberi inspirasi bagi munculnya kesadaran emansipasi perempuan dalam konteks budaya Jawa tradisional.

Dewi Rengganis: Cinta, Keteguhan, dan Spirit Kepahlawanan

Salah satu kisah populer yang lahir dari pengembangan epos Amir Hamzah adalah lakon Dewi Rengganis, diambil dari Serat Rengganis karya Rangga Janur. Kisah ini mengisahkan Dewi Rengganis, putri pendeta Argapura, yang jatuh cinta pada Iman Suwangsa, putra Jayengrana. Bersama-sama, mereka berjuang menolong Umarmaya dari negeri Mukadam, yang dijaga oleh pasukan arca besi ciptaan Begawan Majusi.

Lakon ini menampilkan keindahan kisah cinta yang berpadu dengan nilai keberanian, kesetiaan, dan kekuatan spiritual, sekaligus memperlihatkan bagaimana tokoh perempuan dalam tradisi Menak digambarkan aktif, berdaya, dan bijaksana.

Dari Naskah ke Pertunjukan Wayang

Hingga awal abad ke-20, kisah Menak kerap dipentaskan dalam bentuk wayang Golek di daerah pesisir dan pedalaman Jawa Tengah bagian barat. Namun di wilayah keraton Surakarta, seni ini kurang mendapat tempat karena dianggap sebagai bentuk hiburan “populer” yang tidak adiluhung.

Keadaan itu berubah ketika Sutardjo Trunodipo (STD), seniman dan rohaniwan asal Surakarta, menciptakan Wayang Menak pada 1933–1934 sebagai sarana dakwah dan hiburan rakyat. Ia menjadikan Serat Menak karya Yasadipura I sebagai sumber utama, namun menambahkan elemen visual dari wayang Purwa, wayang Gedhog, sandiwara Stambul, ketoprak, hingga film Eropa dan Amerika agar lebih menarik bagi penonton modern.

Warisan dan Koleksi Wayang Menak

Setelah Trunodipo wafat pada 1936, sebagian koleksinya dibeli oleh R. Dutadilaga untuk kegiatan propaganda PARINDRA (Partai Indonesia Raya), lalu berpindah ke tangan RM Sajid, seniman lukis dan dalang dari Sriwedari, Surakarta.

Pasca kemerdekaan, Wayang Menak ini sempat dimiliki oleh Pemerintah Kota Surakarta, sebelum akhirnya dikoleksi oleh Presiden Ir. Soekarno, yang dikenal memiliki ketertarikan mendalam terhadap seni pedalangan Nusantara.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top