Kisah Wayang Menak berakar dari epos Islam klasik tentang Amir Hamzah, pahlawan legendaris yang kisahnya lahir di dunia Persia dan berkembang luas di dunia Islam sejak abad ke-9. Berawal dari cerita kepahlawanan Qissa-i Amir Hamzah pada masa Dinasti Abbasiyah, kisah ini menelusuri perjalanan sang tokoh dari Barat hingga Timur dunia kuno—sebelum akhirnya menyeberang ke India dan kemudian ke Nusantara.

“The Spy Zanbur Bringing Mahiyya to the City of Tawariq”, from Akbar Hamzanama | Sumber: wikipedia
Asal-usul Kisah Amir Hamzah
Wayang Menak berakar dari kisah epos Amir Hamzah—dalam versi Jawa dikenal sebagai Wong Agung Menak Jayengrana atau Sayidina Amir Hamzah. Tokoh ini diidentikkan dengan Hamzah bin ‘Abdul Muthallib r.a., paman Nabi Muhammad s.a.w., yang gugur dalam Perang Uhud.
Cerita kepahlawanan Amir Hamzah pertama kali berkembang pada abad ke-9 Masehi di Irak, pada masa Dinasti Abbasiyah. Saat itu, Khalifah Harun ar-Rasyid berhadapan dengan pemberontak bernama Hamzah bin Abdullah. Kisah perjuangan tokoh ini menginspirasi para sastrawan Persia untuk menggubahnya menjadi karya sastra heroik berjudul Qissa-i Emir Hamza.
Transformasi dalam Sastra Persia
Dalam karya tersebut, Hamzah digambarkan sebagai pahlawan Islam yang penuh keberanian, petualangan, dan kebijaksanaan. Seiring berjalannya waktu, identitas sejarah Hamzah bin Abdullah terlupakan, digantikan oleh citra spiritual Hamzah bin ‘Abdul Muthallib, tokoh Islam yang lebih populer.
Cerita Qissa-i Emir Hamza pun berkembang menjadi kisah epik penuh petualangan lintas negeri—mengisahkan perjalanan Amir Hamzah melintasi kerajaan Iskandar Zulkarnain, dari ujung barat dunia kuno di Eropa hingga ke timur jauh di Cina.
Perjalanan ke India dan Dunia Islam Timur
Pada abad ke-15, kisah Amir Hamzah mencapai India dalam bentuk tradisi tutur (dastan). Cerita ini begitu digemari oleh raja-raja Mughal, yang menjadikannya bagian penting dari budaya istana. Popularitasnya menandai puncak perkembangan cerita Amir Hamzah di dunia Islam Timur, sebelum akhirnya menyebar ke dunia Melayu dan Nusantara.
Wayang Menak Iskandar Zulkarnain (Alexander the Great)
Iskandar: Raja Ngerum yang Menaklukkan Dunia
Dalam tradisi Persia dan Jawa, Iskandar Zulkarnain atau Alexander the Great dikenal sebagai raja agung dari Ngerum (Eropa), putra Prabu Darab (Darius) dari Madain (Persia) dan Arkiyah, seorang bangsawan Romawi. Ia digambarkan sebagai penguasa besar yang dikaruniai kecerdasan strategi, kekuatan militer, dan kebijaksanaan luar biasa—disegani oleh raja-raja dari Eropa, Afrika, Arabia, Persia, hingga India.
Dalam Hikayat Iskandar Zulkarnain, Iskandar disebut sebagai murid terpandai dari Aristatalis Hakim (Aristotle the Wise), sedangkan dalam tradisi Jawa melalui Serat Iskandar, ia justru digambarkan sebagai sahabat dekat Baginda Kilir atau Nabi Khidhir, tokoh spiritual yang menjadi penuntunnya dalam perjalanan batin dan penaklukan rohani.
Baginda Kilir: Sang Abadi Penuntun Jalan Luhur
Kilir, juga dikenal sebagai Nabi Khidhir, merupakan figur mistis yang dihormati dalam tradisi Islam dan Jawa. Ia dipercaya sebagai sosok abadi yang menuntun manusia menuju jalan kebajikan dan sering muncul menolong mereka yang tertimpa penderitaan duniawi.
Dalam legenda, keabadian Kilir diperoleh setelah ia meminum air kehidupan dari Ma’ul Hayat atau Fountain of Life, yang terletak di negeri kegelapan Lulmat atau Jaminambar dalam tradisi Menak. Ia menjadi penasihat spiritual Iskandar Zulkarnain, simbol hubungan antara kekuasaan duniawi dan pencerahan batin.
Raja-Raja dan Tokoh dari Dunia Iskandar
Dalam kisah Iskandar versi Menak dan Hikayat, muncul pula berbagai tokoh dan kerajaan simbolik yang mewakili perjuangan antara kebaikan dan keangkuhan:
- Ubur, raja Jabarsah, pengikut raja iblis Prabu Ja-Makjuja (Gog dan Magog) dari Ngambarkawit (Ujung Bumi), yang akhirnya dikalahkan oleh Iskandar.
- Jabarkah, saudara Ubur, yang ditundukkan oleh Arhos, raja bawahan Iskandar.
- Rumiyatil Kubra, perdana menteri kerajaan Jabarsah.
- Balminas Hakim, “the Wise Balminas,” perdana menteri Ngerum, yang dalam versi Hikayat dianggap terinspirasi dari Apollonius (of Tyana) atau Parmenio, jenderal kepercayaan Alexander.
Kisah-kisah ini menggambarkan semesta epik Wayang Menak yang melampaui batas sejarah dan mitologi, di mana nilai kepemimpinan, kebijaksanaan, dan pencarian spiritual berpadu dalam tradisi Islam-Persia yang kelak berakar kuat dalam budaya Jawa.
