Sebagai tradisi biokultural masyarakat pesisir Jawa, Nadran mencerminkan perpaduan antara nilai-nilai religius, ekologi, dan sosial yang telah terbangun selama berabad sebelumnya. Upacara ini berfungsi sebagai bentuk ungkapan syukur atas hasil laut sekaligus sarana memperkuat hubungan harmonis antara manusia, alam, dan dimensi spiritual. Melalui rangkaian ritual seperti pelarungan sesaji, penyucian perahu, dan pertunjukan wayang Budhug Basu, Nadran menunjukkan dinamika akulturasi budaya Hindu, Islam, dan tradisi lokal yang tetap lestari hingga masa kini.

Tradisi Nadran di pesisir utara Jawa
Tradisi Hidup di Tepi Laut
Nadran adalah tradisi sakral sekaligus perayaan yang dilakukan oleh komunitas nelayan di sepanjang pesisir utara Pulau Jawa, khususnya di wilayah Jawa Barat. Tradisi ini merupakan festival biokultural yang memadukan unsur kepercayaan animisme, Hindu, dan Islam dalam satu ungkapan syukur, penghormatan terhadap ekologi, dan identitas kebersamaan.
Diperkirakan telah ada sejak abad ke-4 pada masa Kerajaan Hindu Tarumanegara, tradisi Nadran bertahan melewati berbagai perubahan zaman—termasuk penyebaran Islam dan datangnya modernitas.
Hingga kini, Nadran tetap menjadi praktik budaya yang berakar kuat, memadukan unsur lama dan baru, lokal dan global, spiritual dan ekologis secara harmonis.
Urutan Ritual: Sesaji, Arak-arakan, dan Tindakan Sakral
Upacara Nadran berlangsung melalui serangkaian kegiatan yang melibatkan seluruh masyarakat, baik secara fisik maupun spiritual:
Pertunjukan Wayang dan Ruwatan
Pada malam hari, diadakan pertunjukan wayang kulit sebagai ruwatan, yakni pementasan penyucian diri. Cerita yang dibawakan berjudul Budhug Basu, yang mengisahkan asal-usul mitologis padi dan ikan, memperkuat makna kosmologis dan ekologis dari tradisi Nadran.
Persiapan Sesaji dan Ancak
Warga menyiapkan ancak, yaitu perahu kecil simbolis yang diisi dengan buah-buahan, sayuran, beras, dan hasil bumi lainnya. Seekor kerbau disembelih secara ritual, dan kepalanya dijadikan sesaji utama—dihias dengan riasan seperti pengantin wanita dan secara simbolis “dinikahkan” dengan laut.
Arak-arakan Keliling Desa
Setelah siap, ancak dan sesaji diarak keliling desa. Prosesi meriah ini diiringi doa dan berkah dari para ulama serta tokoh spiritual setempat.
Pelarungan: Melabuhkan Sesaji ke Laut
Ancak, bersama kepala kerbau dan sesaji lainnya, dilarungkan ke Laut Jawa dalam upacara khidmat yang disebut pelarungan. Tindakan pelepasan ini diyakini sebagai bentuk penghormatan kepada roh penjaga laut serta mempererat harmoni antara manusia dan alam.
Penyiraman Perahu dengan Air Suci
Para nelayan kembali ke darat untuk memandikan perahu mereka dengan air setaman—air bunga tujuh rupa yang telah diberkati. Ritual ini bertujuan menyucikan perahu dan mempersiapkannya untuk siklus melaut berikutnya.
Budhug Basu: Mitos, Wayang, dan Simbolisme Sakral
Pementasan wayang wajib dalam tradisi Nadran, Budhug Basu, merupakan alegori puitis tentang kehidupan, kematian, dan transformasi. Kisah ini menceritakan pertemuan antara Dewi Sri, dewi padi, dan Budhug Basu (juga dikenal sebagai Budug Basuh), dewa laut yang dikutuk dengan penyakit kulit.
Meski saling tertarik, Dewi Sri menolak Budhug Basu setelah mengetahui penyakitnya. Budhug Basu meninggal dalam kesedihan, bersumpah akan bersatu dengan Dewi Sri di alam baka. Persatuan mereka diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui paduan nasi dan ikan di piring—dua sumber pangan utama yang lahir dari kisah duka dan cinta.
Pertunjukan diakhiri dengan kidung (nyanyian sakral), dan batang wayang dicelupkan ke dalam air untuk menciptakan air suci, yang kemudian digunakan untuk memerciki perahu nelayan—kembali mempertautkan mitos, ritual, dan ekologi.
Akulturasi dan Keberlanjutan: Hindu, Islam, dan Laut yang Sakral
Nadran merupakan contoh hidup dari akulturasi agama yang harmonis. Mantra dan sesaji Hindu kuno bertransformasi menjadi doa dan amalan sedekah dalam tradisi Islam. Jika dahulu masyarakat memuja dewa-dewi seperti Hyang, kini mereka mengucap syukur kepada Allah. Meskipun wujudnya berubah, esensi spiritual dari upacara ini—rasa syukur, pengorbanan, dan penghormatan terhadap alam—tetap lestari.
Sebagian kalangan menganggap ritual ini bertentangan dengan ajaran Islam (musyrik), namun pandangan itu mengabaikan sintesis spiritual mendalam yang terkandung di dalamnya. Alih-alih memperlihatkan konflik agama, Nadran menunjukkan kesinambungan dan adaptasi—bagaimana budaya dapat setia pada akar tradisinya sambil tetap berkembang seiring waktu.
Ketahanan budaya semacam ini dijelaskan oleh Koentjaraningrat dalam adaptasinya atas teori Clyde Kluckhohn tentang Tujuh Unsur Kebudayaan Universal. Dalam kerangka tersebut, ritual dan upacara merupakan unsur yang paling sulit berubah, dan Nadran adalah contoh indah dari ketahanan itu dalam lanskap budaya Indonesia yang dinamis.
Nadran dan Keanekaragaman Biokultural
Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan kekayaan hayati dan budaya terbesar di dunia, dengan lebih dari 1.100 kelompok etnis dan lebih dari 700 bahasa yang digunakan di 17.500 pulau. Nadran adalah cerminan kecil dari keragaman tersebut—tempat di mana lingkungan dan budaya saling bertemu, berpadu, dan melahirkan ekspresi bersama yang penuh makna.
Penggunaan kerbau dalam Nadran, bukan sat-satunya tapi dalam berbagai praktik budaya dunia—dari simbol lembu di harpa Mesopotamia dan hyrogliph Lembah Indus, hingga Minotaur di Kreta, serta upacara Ngaben di Bali dan ritual Rambu Solo dari masyarakat Toraja di Sulawesi.
Refleksi Kontemporer dan Intervensi Artistik
Dalam beberapa tahun terakhir, para seniman dan peneliti mulai mengeksplorasi Nadran melalui format kreatif baru. Salah satu proyek tersebut, Sea Offerings, Wayang, and Me, adalah pertunjukan wayang pasca-tradisional oleh Matthew Cohen, seorang dalang yang telah puluhan tahun berkarya di Jawa.
Dalam pertunjukan yang juga berfungsi sebagai riset ini, Cohen memadukan rekaman dokumenter upacara Nadran nyata dengan narasi autobiografis, komentar ekologis, dan selingan humor. Proyek ini menampilkan adegan persiapan kepala kerbau hingga pelarungannya ke laut, pementasan wayang yang diselingi renungan filosofis, serta refleksi tentang pemahaman lintas budaya, perubahan lingkungan, dan pembaruan spiritual.
Karya Cohen menyoroti kekuatan ekspresif sekaligus pesan ekologis yang terkandung dalam Nadran. Ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan penting tentang penerjemahan budaya, akses terhadap warisan leluhur, dan peran tradisi sakral di era globalisasi dan krisis iklim.






Gallery
Galeri ini menampilkan Nadran: perahu sesaji, arak-arakan desa, dan pertunjukan wayang Budhug Basu yang mencerminkan harmoni manusia, laut, dan spiritualitas.
