Sutasoma

Wayang Sutasoma mengisahkan tentang kekuatan welas asih Raja Sutasoma yang berupaya mengubah konflik menjadi kedamaian dan harmoni. Ketika negerinya terancam perang, ia menolak kekerasan. Alih-alih membiarkan pasukannya atau saudaranya, sang menteri Dasabahu, bertempur untuk melindunginya, Sutasoma memilih menyerahkan diri dan membiarkan dirinya ditangkap oleh pasukan raksasa Purusada demi menghindari korban jiwa.

Kekuatan Welas Asih

Dengan kebijaksanaan dan kekuatan spiritualnya, Sutasoma mampu mengubah senjata mematikan milik Purusada menjadi bunga, serta mengubah api berbahaya milik musuh menjadi air suci yang membangkitkan kembali para prajurit yang gugur.

Tindakan-tindakannya melambangkan kemenangan cinta kasih dan kesadaran atas kebencian dan kekerasan.

Pencerahan Sang Kala

Dalam klimaks kisah, Kala—titisan waktu—menjelma menjadi naga raksasa untuk menelan Sutasoma. Namun, sang raja tidak melawan. Ia justru memberikan pencerahan kepada Kala dan memancarkan energi kesadaran murni (jñāna hening) yang membawa ketenangan bagi seluruh alam.

Makna Filsafat

Sutasoma tidak hanya menyelamatkan rakyat, sumber daya alam, dan harta benda negeri, tetapi juga memberikan pencerahan spiritual bagi musuh-musuhnya. Ia mewujudkan kebijaksanaan kuno Jagat Kerthi (Satya/kebenaran, Rta/doktrin suci keharmonisan semesta, Diksa/kemurnian, Tapa/pengendalian diri, Brahman/ketuhanan, Yadnya/amal) serta nilai kemanusiaan Jatma Kerthi (Satya Dharma/kewajiban sosial, Bhakti/hormat, Ahimsa/anti-kekerasan, dan Santi/damai).

Seni Pertunjukan

Dalam pertunjukan Wayang Sutasoma, lirik-lirik tertentu biasanya dilantunkan dengan nada khas, sementara dalang menekankan beberapa kata dalam narasi untuk memperkuat karakter. Semua itu berpadu dengan iringan musik dan gerak wayang, menciptakan suasana dramatik yang menyentuh dan penuh makna spiritual.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top