
Wayang kulit purwa bukan sekadar pertunjukan bayangan di balik kelir, tapi karya seni rupa yang memadukan makna, teknik, dan rasa. Di tangan para empu dan pangeran Yogyakarta, wayang menjadi simbol kehalusan budi dan kejernihan estetika. Setiap ukiran, warna, dan gerak menyimpan kisah tentang cita rasa bangsawan Jawa yang menyalurkan kecintaannya pada seni melalui bentuk-bentuk penuh makna.
Disadur dari “Varian dan Keragaman Wayang Kulit Purwa Gaya Yogyakarta dalam Pendokumentasian dan Analisis Karakter: Sebuah Tinjauan Ringkas Seni Rupa Wayang”, karya R Bima Slamet Raharja.
Tulisan ini menelusuri keindahan dan keragaman wayang kulit purwa gaya Yogyakarta dari tiga koleksi kepangeranan—Hangabehi, Mangkukusuma, dan Ngabeyan. Masing-masing menunjukkan kehalusan kriya, filosofi, dan kreativitas khas Jawa, menegaskan bahwa wayang bukan sekadar seni pertunjukan, tetapi warisan hidup yang memadukan estetika, spiritualitas, dan identitas budaya.
Sebagaimana dikatakan Soedarso Sp, wayang kulit tergolong seni kriya yang tidak hanya indah, tetapi juga berguna — menjadi media untuk memvisualisasikan cerita-cerita kepahlawanan dan filsafat hidup. Dalam tradisi Yogyakarta, wayang berkembang dalam lingkungan budaya yang disebut adiluhung — sebuah puncak olah rasa dan keahlian tangan yang diwariskan turun-temurun.
Dari lingkungan istana inilah lahir berbagai varian wayang kepangeranan, masing-masing mencerminkan kepribadian, selera, dan semangat zamannya. Tiga di antaranya — Yasan Pangeran Hangabehi, Pangeran Mangkukusuma, dan Pangeran Hangabehi (Ngabeyan) — menjadi saksi hidup bagaimana seni wayang tumbuh dari tradisi menuju keindahan yang individual.
Wayang Hangabehi: Keemasan yang Ngrawit
Koleksi Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Hangabehi, putra tertua Sultan Hamengku Buwana VII, kini tersimpan di RRI Yogyakarta. Koleksi ini termasuk yang paling lengkap dan indah dalam sejarah wayang Yogyakarta. Seluruh set wayangnya — dari boneka hingga kelir dan gamelan — dibuat seragam, menunjukkan kesatuan rasa dan rancangan yang sangat terencana.
Ciri khas wayang Hangabehi terletak pada tatahan yang ngrawit, halus dan penuh detail, dengan dominasi motif inten-intenan dan warna prada emas. Warna-warna yang dipilih tidak sekadar dekoratif, melainkan membawa makna simbolik bagi karakter tokohnya. Wajah merah misalnya, melambangkan keberanian dan amarah, sementara hitam melambangkan ketenangan dan kebijaksanaan.
Keindahan koleksi ini juga tampak pada motif busana. Kain kampuh wayang menampilkan ragam batik klasik seperti parang, kawung, dan semen, sementara bagian celana dihiasi motif cindhe yang menjadi ciri khas gaya Yogyakarta. Pangeran Hangabehi memberi kebebasan bagi para seniman penyungging untuk berkreasi, sehingga setiap figur terasa hidup dan tidak monoton.
Pada bagian kaki, terdapat kode bertuliskan aksara Jawa “Ka Pa Ha Ha(ng)” — singkatan dari nama sang pangeran — lengkap dengan tahun pembuatannya: 1842 Jawa atau 1916 Masehi. Detail kecil ini menjadi penanda sejarah sekaligus tanda tangan estetik seorang pecinta seni sejati.
Wayang Mangkukusuman: Keanggunan dalam Kesederhanaan
Sementara itu, wayang yasan Gusti Pangeran Harya Mangkukusuma, putra Sultan Hamengku Buwana VII dari permaisuri Kangjeng Ratu Kencana, memiliki karakter berbeda. Koleksi ini sempat tersebar di berbagai tempat, salah satunya di rumah almarhum Moheni di Bantul. Meski tidak utuh lagi, keindahan dan kekhasannya masih bisa dirasakan.
Pangeran Mangkukusuma mempercayakan pembuatan wayang kepada dua empu terkenal, Ki Kertiwanda dan Ki Prawirasucitra. Gaya Kertiwanda mudah dikenali dari bentuk mata wayang yang lebar, tatahan yang lugas dan luwes, serta penggunaan motif kawatan — pola ukiran menyerupai gelombang dengan isian bunga. Tidak seperti wayang Hangabehi yang sarat emas, Mangkukusuman justru menonjolkan kesederhanaan yang elegan.
Teknik pewarnaan atau sunggingan pada wayang ini banyak menggunakan gradasi lembut tanpa hiasan tambahan (bludiran). Warna-warna disusun berlapis, tiga hingga enam tingkat, menghasilkan kesan tenang dan mendalam. Di bagian tangan, warna kulit disamakan dengan warna wajah, seolah tokohnya memakai sarung tangan — sebuah gaya khas era 1800-an.
Hal menarik lain adalah munculnya tokoh-tokoh dari pawukon, sistem penanggalan Jawa kuno, seperti Watugunung dan Wukir. Ini menunjukkan upaya pangeran untuk memperluas cakupan cerita wayang, tidak hanya mengambil dari epos Mahabharata atau Ramayana, tetapi juga dari kosmologi dan filsafat lokal.
Wayang Ngabeyan: Inovasi di Tengah Tradisi
Varian ketiga berasal dari Kangjeng Gusti Pangeran Harya Hangabehi, putra Sultan Hamengku Buwana VIII. Dikenal dengan sebutan Wayang Ngabeyan, koleksi ini kini menjadi aset Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta dan disimpan di Bangsal Kepatihan. Dengan jumlah lebih dari 600 figur, wayang ini merupakan salah satu koleksi paling besar dan kompleks.
Pangeran Hangabehi dikenal sebagai seniman pemikir. Ia tak hanya mengoleksi, tetapi juga menciptakan tokoh-tokoh baru. Dalam kisah Pringgandani, misalnya, ia menafsirkan ulang para paman Gatotkaca — Brajamusthi, Brajadhenta, Brajawikalpa, dan Brajalamatan — dengan karakter yang lebih gagah dan berenergi. Ia juga menciptakan figur-figur dari kisah Lokapala dan Arjunasasrabahu yang sebelumnya jarang dikenal masyarakat.
Ciri utama wayang Ngabeyan adalah dominasi warna emas (brongsong) dan tatahan yang sangat halus. Motif inten-intenan mendominasi bagian hiasan telinga (sumping) dan mahkota (makutha), sedangkan kain busana menampilkan pola parang klithik dan cindhe. Tidak hanya tokoh manusia, Pangeran Hangabehi juga memberi perhatian pada detail hewan dan alam. Wayang dhudhahan seperti pohon, naga, dan ikan digambar dengan gaya realis menyerupai lukisan — hal yang jarang ditemui di era berikutnya.
Menariknya, setiap wayang diberi kode “Pa Ha” (Pangeran Hangabehi) dan tanggal pembuatannya. Koleksi ini dibuat antara tahun 1930 hingga 1960-an, menjadikannya lebih muda daripada dua varian sebelumnya, namun tetap memancarkan keanggunan gaya klasik.
Menjaga Jiwa dalam Bayangan
Ketiga koleksi wayang kepangeranan ini memperlihatkan bagaimana seni kriya Jawa berkembang dalam lingkungan budaya yang penuh rasa dan makna. Setiap pangeran menyalurkan pandangan hidupnya melalui bentuk, warna, dan proporsi figur. Dari kehalusan ngrawit Hangabehi, kesederhanaan meditatif Mangkukusuma, hingga inovasi kreatif Ngabeyan — semuanya merekam perjalanan estetika Jawa dari masa ke masa.
Lebih dari sekadar benda, wayang adalah cermin jiwa zaman. Ia merekam nilai-nilai filosofi seperti sawiji, greget, sengguh, ora mingkuh — prinsip hidup masyarakat Yogyakarta yang menekankan keseimbangan antara kesungguhan dan ketenangan.
Menyelami wayang berarti menyelami pandangan dunia Jawa: bahwa keindahan bukan hanya soal rupa, tapi juga sikap, kesabaran, dan kebijaksanaan. Dan di balik setiap figur kulit yang ditatah dengan telaten itu, tersimpan doa agar manusia tetap eling — ingat akan asalnya, dan sadar akan harmoni antara dunia, seni, dan spiritualitas.









Gallery
Berikut beberapa contoh wayang Purwa koleksi RRI Yogyakarta. Untuk gambar dengan resolusi tinggi dan dokumentasi wayang Gedhog yang komplit, silahkan hubungi kami.
