Thithi

Wayang juga hidup dalam dialog budaya antara Jawa dan Tiongkok. Di Yogyakarta, seniman Tionghoa-Indonesia Gan Thwan Sing (1925) memperkenalkan Wayang Thithi, kemudian dikenal sebagai Wacinwa (Wayang Kulit Cina Jawa). Ia mengadaptasi legenda Tiongkok seperti kisah Sie Jin Kui, namun diceritakan dalam bahasa Jawa. Hasilnya adalah pertunjukan yang terasa lokal sekaligus transnasional—mudah diikuti, kaya detail visual, dan sangat dicintai audiensnya.

Gema Tionghoa-Jawa

Warisan Gan kemudian diteruskan oleh Woro, seorang seniman dan peneliti yang menemukan kembali 19 manuskrip Tionghoa-Jawa yang tidak tersentuh selama puluhan tahun. “Saat saya menemukannya, rasanya seperti berburu harta karun,” katanya. Teks-teks ini menggunakan nama Tionghoa yang ditransliterasi ke aksara Jawa dengan tanda vokal—membingungkan bahkan bagi mahasiswa studi Tiongkok. Bahasa ini, seperti wayangnya sendiri, telah terhibridisasi. “Ini nama Hok Kian, yang dijawanisasi,” jelas Woro. “Tak seorang pun tahu cara membacanya, bahkan dosen saya.”

Pada 2014, dalang Aneng mementaskan Wacinwa berdasarkan narasi bergaya komik tentang pertemuan pertama Sie Jin Kui dengan istrinya. Namun tantangan praktis muncul—tidak ada wayang yang tersedia untuk pertunjukan, dan meminjam dari museum terbukti mustahil. Jadi Aneng membuat wayangnya sendiri, lebih tinggi dan lebih fungsional untuk panggung, namun tetap setia pada semangat karya asli Gan Thwan Sing. “Anda tidak selalu bisa menunggu persetujuan institusi,” katanya. “Kadang, Anda harus menciptakan tradisi sendiri.”

Gallery

Untuk hi-res images dan dokumentasi wayang komplit, silahkan hubungi kami.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top