
Wayang Esther adalah pertemuan unik antara tradisi Jawa dan kisah Alkitab, lahir dari kreativitas lintas budaya. Terinspirasi oleh sensitifitas musik Barbara Benary terhadap warisan Yahudi dan gamelan Jawa, pertunjukan ini memadukan wayang kulit dengan narasi Ratu Esther, menghadirkan pengalaman visual dan musikal yang memadukan tradisi, kolaborasi, dan reinterpretasi lintas benua.
Inspirasi Kisah Ratu Esther
Barbara Benary, seorang etnomusikolog Yahudi-Amerika, termasuk yang pertama memperkenalkan ansambel gamelan gaya Jawa di Amerika Serikat. Grupnya, Son of Lion, sering memadukan gamelan dengan melodi liturgi Yahudi. Meskipun Barbara tidak terlalu religius, sensitifitas musik dan budayanya sangat dipengaruhi oleh warisannya—mengubah keyakinan menjadi budaya, dan budaya menjadi kolaborasi.
Dari dasar yang subur ini lahirlah Wayang Esther, pertunjukan wayang kulit berdasarkan kisah Alkitab tentang Ratu Esther.
Pertunjukan ini pertama kali dilakukan pada 1999 dan dihidupkan kembali beberapa tahun kemudian ketika komposer Matthew Cohen menghubungi dalang Jawa Joko Susilo dan komposer Jody Diamond untuk membangkitkan kembali pertunjukan tersebut. Rencananya adalah menampilkan ulang untuk Purim, hari raya Yahudi, di West Hartford, Connecticut.
Namun, merekonstruksi pertunjukan ini bukan pekerjaan mudah—partitur musik harus ditemukan, wayang didesain ulang, dan semuanya disusun kembali dari ingatan.
Joko, yang awalnya menggunakan wayang purwa tradisional, harus merancang tokoh baru yang disesuaikan dengan narasi Esther. “Awalnya, tokohnya terlihat terlalu Jawa,” kenangnya. “Hidungnya tidak pas.” Proses ini menjadi perjalanan panjang lintas benua untuk revisi dan penyempurnaan. Sementara itu, Matthew memperkenalkan visual historis: ilustrasi Kitab Esther dari Italia abad ke-18. Meskipun tidak dibuat untuk pertunjukan wayang, proporsi tokohnya mirip dengan figur wayang. Dengan desain Joko dan sumber visual Matthew, tim menciptakan pertunjukan dua lapis—satu menggunakan wayang, satu lagi dengan proyeksi—memungkinkan penonton merasakan tradisi dan reinterpretasi sekaligus.









